Okay. Kalau ditanya kenapa akhirnya gw memutuskan untuk nonton trilogi ini (meskipun tbh gw bener-bener bukan salah satu penikmat trilogi), oke kalau kondisinya sebuah film punya satu sekuel, hanya satu. Tapi kalo lebih dari satu itu tentu tantangan buat penggagasnya.
Mungkin ini terkesan subjektif
dan sama sekali ngga ilmiah, tapi kebanyakan problematika film yang punya
sekuel adalah, kalo film pertamanya itu buagus buanget, biasanya film
lanjutannya/sekuelnya gak lebih bagus dari film pertamanya. That’s true. Sebutin,
misalnya film lokal aja: Sang Pemimpi, Edensor (sekuel Laskar Pelangi,
Ayat-Ayat Cinta 2 (sekuel Ayat-Ayat Cinta), Arisan! 2 (sekuel Arisan!), AADC 2
(sekuel AADC), Eiffel I’m in Love 2 (sekuel Eiffel I’m in Love), My Stupid Boss
2 (sekuel My Stupid Boss), Love for Sale 2 (sekuel Love for Sale), Hanum &
Rangga (sekuel 99 Cahaya di Langit Eropa), Rudi Habibie (sekuel Habibie &
Ainun), dll
Gak Cuma produksi dalam negeri,
sekuel film Hollywood menurut gw juga salah satu hal yg tricky buat diproduksi,
terutama Ketika film pertamanya tuh beyond words bagusnya. Sebut aja
sekuel-sekuel kayak: Jumanji: The Next Level & Jumanji: Welcome to The
Jungle (sekuel Jumanji), Home Alone 4 & 5 (sekuel Home Alone), Finding Dory
(sekuel Finding Nemo), Spiderman 3, Spiderman: Far from Home & Spiderman:
No Way Home (sekuel Spiderman), Bridget Jones’s Baby & Bridget Jones’s: The
Edge of Reason (sekuel Bridget Jones’s Diary), Legally Blonde 2: Red, White
& Blonde (sekuel Legally Blonde). Bahkan genre horror sekalipun kayak The Conjuring
dan Insidious pun, sekuelnya gak lebih bagus dari film pertamanya.
Penyebabnya? Banyak sebenernya.
Tapi yang paling krusial adalah, sekuel tidak akan lebih baik dari film
pertamanya kalo film pertamanya itu dibuat emang untuk tamat. Kayak udah
problem solved gitu. Bahasa mudahnya mungkin, ya karena udah happy ending, jadi
mau dilanjutin lagi tergantung yang bikin scenario, bakalan menarik gak nih? Apa
emang lebih menarik kalo udahan ya gitu aja… beda kasusnya kalo film pertamanya
punya ending yg gantung, atau emang sengaja mau dibuat lanjutannya, kan ada tuh
yang begitu. Atau bisa juga, film-film yang emang adaptasi dari buku. Biasanya kalo
buku kan berseri, nah umumnya kalo diangkat ke layar lebar, filmnya pun
ngikutin berseri juga. Kecuali kalo adaptasi bebas, yaa itu bakalan lain lagi,
buku yang ada 5 seri pun, bisa aja diangkat ke film yang cuma 1 judul.
Intinya, sekarang bukan lagi mau
ngomongin soal sekuel-sekuel film atau kualitasnya gimana, tapi lebih ke pengen
fokus ke satu judul film trilogi yang baru-baru ini gw selesein dan berkesan
banget buat gw. Seperti yang dijelaskan di awal, judulnya BEFORE TRILOGY. Film
Trilogi Before ini ada 3 seri, dan semuanya diawali dengan kata “BEFORE”:
Before Sunrise (sebelum matahari terbit), Before Sunset (sebelum matahari
tenggelam), dan (mungkin) diakhiri dengan Before Midnight (sebelum tengah
malam). Kenapa gw bilang “mungkin diakhiri”, karena gak ada yang tau kalo
tiba-tiba muncul sekuel keempat nanti haha (hopefully as good as those three).
Spoiler sebelumnya. Film
ini agak unik guys, karena film ini bener-bener penuh sama dialog panjang yang kalo
kalian bukan tipikal penikmat film dengan percakapan yang panjang dan penuh
makna maka kalian bakalan cepet bosen, bahkan sejak scene awal waktu kedua tokoh
menghabiskan waktu buat ngobrol-ngobrol ngablu panjang lebar di Restorasi
kereta api tujuan Budapest (hungaria) ke Vienna (Austria). Apalagi obrolan
mereka ini bukan yang small talk macem:
“Hi, I’m Paul”
“Hi, I’m Meredith”,
“How Are You?”
“Good. How Are You?”
Bukan yang mainstream begitu..
Haha.
Dan dari sejak pertemuan awal
kedua tokoh ini gw bener-bener ngerasa kagum krn dua-duanya ini super pinter…
bukan yang kayak pinter intelektual gitu, tapi lebih ke wawasan dan topik
obrolannya yang meluas, mulai dari ngobrolin soal ide-ide, kehidupan yang lagi
mereka jalani, masa depan, keluarga dan lain-lain.. dan semua obrolan ringan tapi
dalam itu dibungkus dengan berbagai filosofi yang bikin kita melongo sendiri
dengernya. Mereka kayak bener-bener ngobrol, pake hati, pake jiwa, dan pake
otak. Bukan sekadar cari bahan obrolan supaya bisa basa-basi karena mau kenalan
doang. NO. THEY WEREN’T. Dan beberapa menit kemudian, tanpa kita sadari kita
jadi ikut larut dalam obrolan panjang dan dalam mereka. Kita seolah kayak jadi tau
latar belakang masing-masing karakter tanpa penulis harus menjelaskannya secara
konkret si anu siapa dan si itu siapa. Brilliant.
Oke daripada makin ngablu, kita
langsung ke inti ceritanya aja. Untuk mempersingkat waktu gw akan gabung
semuanya dan nyeritain garis besarnya dari film awal sampe sekuel terakhir.
BEFORE SUNRISE
Cerita dimulai dari film pertama
dari Trilogi Before, yaitu BEFORE SUNRISE (Sebelum Matahari Terbit).
Have no idea tentang judulnya pas pertama kali nonton. Before sunrise ini berlatar belakang di tahun 1994 (meskipun film aslinya tayang tahun 1995), which is tahun-tahun di mana mereka pertama kali ketemu. Ada
dua tokoh utama di film ini (dan tentunya di sekuel-sekuel selanjutnya), sepasang
muda-mudi yang pada saat itu belum mengenal satu sama lain, dan bahkan berasal
dari negara yang berbeda. Mereka adalah Jesse dan Celine. Jesse adalah pemuda
Amerika yang hobi travelling dan bisa dibilang dia sedang dalam masa-masa
Quarter-Life Crisis lah… (Love life, kerjaan, masa depan semua yang masih
ngablu gak jelas), di sisi lain Celine kehidupannya agak lebih jelas dibandingkan
Jesse (wkwk), Celine adalah mahasiswi asal Prancis yang baru pulang dari rumah
neneknya di Budapest. Mereka sama-sama naik kereta api dari Budapest tapi
tujuannya beda-beda (yakan asalnya juga beda yee), Jesse rencana turun di Vienna
(Austria) buat ngejar penerbangan balik ke Texas (USA), sedangkan Celine naik
kereta dari Budapest buat turun di Paris. Di kereta pun mereka duduknya jauhan
sebenernya, Celine duduk beberapa baris di depan tempat duduk Jesse, tapi entah
takdir mempertemukan haha, Celine yang duduk sebelahan sama pasutri asal Jerman
yang lagi ribut (ya maklum ribut-ribut pasutri yang udah belasan tahun berumah
tangga gitu), terlebih ributnya pake Bahasa Jerman yang Celine gak paham sama
sekali, bosan sama pemandangan keributan turis jerman itu, akhirnya Celine
mutusin buat pindah duduk ke bangku kosong yang posisinya agak di belakang,
kebetulan lagi posisinya di sebelah bangkunya Jesse (ya ini formula-formula
khas Rom-Com yang udah biasa banget sih haha, tapi ke sananya bakalan beda kok 😊).
Karena duduk sebelah-sebelahan
(well, seberangan sih sebenernya cuma satu line), Jesse dan Celine yang
sama-sama duduk sendiri akhirnya saling liat-liatan dan ngobrol. Pada saat itu,
entah kenapa dua-duanya kompak banget lagi sama-sama baca buku. Sebenernya
obrolan pertama mereka berawal dari merhatiin pasutri jerman yang lagi berantem
itu, akhirnya Jesse dan Celine kayak gibahin mereka. Dari topik obrolan pertama
yang mereka obrolin aja itu bener-bener deep, Celine kayak ngasih tau ke Jesse
kalo pasangan itu semakin tua, mereka semakin kehilangan kemampuan mendengar.
Kalo cewek biasanya kehilangan kemampuan mendengar suara rendah dan sebaliknya
laki-laki akan kehilangan kemampuan mendengar suara tinggi, makanya banyak
istri-istri yang udah belasan bahkan puluhan tahun nikah akan cenderung
ngomel-ngomel pake nada tinggi ke suaminya dan semua itu baik-baik saja, krn
suaminya pun mulai mengalami penurunan pendengaran, terlebih pas istrinya
ngomel-ngomel haha. Kesan obrolan pertama mereka udah asik ceu… padahal itu
sama sekali belom kenalan, mereka hanya dua orang asing yang kebetulan
sama-sama di perjalanan kereta yang sama.
Merasa satu frekuensi (aseek),
akhirnya Jesse memberanikan diri buat ngajak Celine ke gerbong restorasi, yaa
itung-itung ngemil-ngemil sambil ngobrol, Celine menyambut baik ajakan Jesse. Di
restorasi obrolan mereka entah kenapa semakin jauh dan jauh dan seru. Jesse dan
Celine mulai tanya satu sama lain tetang ke mana tujuan mereka dan ada keperluan
apa mengunjungi Jesse mulai menceritakan kalo dia berasal dari keluarga broken
home (ayah dan ibunya sudah lama bercerai). Jesse punya mimpi-mimpi besar,
salah satunya buat bikin sebuah acara reality show yang diisi dengan montage kegiatan
rutinitas setiap orang selama 24 jam yang ditayangkan di kota-kota di seluruh
dunia. Jesse juga cerita kalo sejak dia masih kecil, dia termasuk anak yang
punya segudang ide dan imajinasi, tapi gak terlalu didukung sama orang tuanya.
Sebaliknya, Celine pun cerita
kalo dia lahir dari orang tua yang juga selalu punya pendapat yang berseberangan
dengan passion dia. Setiap Celine memilih jalur/karir yang dia gemari, orang
tuanya selalu memiliki opini yang berbeda. Ketika Celine mau jadi penulis,
ayahnya akan bilang wartawan. Atau Ketika Celine mau jadi pekerja suaka hewan
terlantar, ayahnya mau dia jadi dokter hewan. Ketika Celine mau jadi aktris, ayahnya
akan bilang presenter televisi. Dia menyimpulkan bahwa perdebatan semacam ini
konstan terjadi, dan pada akhirnya Celine lebih memilih mengikuti kata hati.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa
obrolan mereka di gerbong restorasi mengantarkan pada tujuan Jesse, stasiun di
Vienna. Itu artinya mereka harus berpisah, karena Celine harus melanjutkan
perjalanannya ke Paris. Tapi, lagi-lagi kalau begitu ceritanya, maka film akan
selesai pada menit ke-15. Obrolan menarik yang dihabiskan bersama Celine
membuat Jesse merasa ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan Celine, terlepas
dari detik itu di mana waktu memaksa mereka untuk berpisah, tapi Jesse seperti
tidak kehilangan akal.
Nggak ada bedanya dari laki-laki
pada umumnya, terlebih di usia yang masih sangat muda, di mana mereka baru
menginjak fase dewasa muda (< 25 tahun), Jesse ambil tindakan lah, kayaknya
gejolak kawula muda yang ada di dalam dirinya menolak untuk berpisah dengan
Celine (atau seenggaknya dia harus cari cara untuk menunda perpisahan mereka
sembari melihat apa yang akan terjadi selanjutnya). Alhasil sebelum Jesse turun
kereta, dia ngasih tau semacam ide gila ke Celine, ya, perempuan yang baru
banget beberapa menit lalu di kenalnya di kereta api, di perjalanan yang sama
sekali gak mereka rencanain untuk bertemu dan menghabiskan waktu Bersama,
bahkan perempuan yang namanya aja belum Jesse ketahui.
Jesse bilang ke Celine kalo dia
merasa mereka punya frekuensi yang sama nih, sama-sama nyambung, obrolan yang
dijalin juga asik dan ngebuat Jesse semangat. Akhirnya, singkat kata dengan
berbagai modus gombal gombleh khas kaum Adam (wkwkwk, asli harus nonton biar
tau modusnya kayak gimana, sok-sok jadi cenayang dia haha. Dan dari scene modus
si Jesse itu kita penonton pasti bisa mengerti kenapa laki-laki tukang bohong
dan perempuan cenderung mudah percaya/tertipu hahaha), Jesse nawarin Celine
buat turun sama-sama di stasiun Vienna itu. Dengan opsi, kalo Celine turun sama
Jesse, dan setelah itu ngerasa Jesse orang yang freak, Celine tinggal balik lagi
ke stasiun dan melanjutkan perjalanan pulang ke Paris. Tapi kalo ternyata
Celine nyaman menghabiskan waktu sama Jesse, mereka harus terus bersama-sama
sampai besok pagi Jesse pergi ke airport buat terbang ke Texas.
Tapiiiii, lagi-lagi gw salut sama
si Jesse ini. Semodus-modusnya dia pengen dapetin Celine ya (kasarnya), dia masih
mencoba jujur dan apa adanya. Dia ngajak Celine turun bareng di Vienna tapi dia
juga bilang ke Celine kalo dia gak punya cukup uang buat sewa penginapan/hotel,
jadi garis besarnya Jesse cuma bisa ngajak Celine jalan-jalan berkeliling kota
Vienna sampai besok pagi. Dan tanpa berpikir Panjang, karena mungkin Celine
juga org yang suka berpetualang, dia mengiyakan tawaran Jesse dan akhirnya
mereka menghabiskan waktu semalaman di Vienna.
Selama di Vienna mereka ngapain? Ya
jalan-jalan, Cuma itu? Iya cuma jalan-jalan. Di sepanjang waktu mereka
jalan-jalan mereka terus ngobrol, ngobrolin banyak hal seperti pas ngobrol di gerbong
restorasi kereta sebelumnya. Karena gak punya duit, Jesse beneran Cuma ngajak
Celine ngider-ngider kota Vienna, jalan kaki wkwk. Di Vienna, mereka sempet
nyobain naik trem dan tetep ngobrolin soal hal-hal random yang penuh dengan
filosofi wkwk, mereka juga mampir ke toko musik yang jual piringan hitam. Di
sana Celine ngambil salah satu album piringan hitam milik salah satu penyanyi
Amerika yang lucunya, si Jesse yang orang Amerika totok malah gak kenal
penyanyi itu wkwk.
Satu adegan hangat dan romantis
tersaji di toko piringan hitam, Celine memutar album milik penyanyi Amerika
itu, dan alunan musik mengiringi kesunyian mereka, diam bener-bener tanpa kata.
Mereka hanya menikmati musik yang diputar dan larut dalam emosi dua orang asing
yang belum ada setengah hari saling kenal.
Setelah dari toko musik, Celine
(yang juga traveller addict) mengajak Jesse ke pemakaman, iya agak absurd sih
buat tempat ngedate wkwk, di situ lagi-lagi mereka terus ngobrol soal hal random,
Celine bercerita dulu ibunya pernah ajak dia jalan-jalan ke makam ini, dan ada
salah satu makam yang berkesan krn mendiang di makam itu anak usia 13 tahun. Dan
pertama Celine menemukan makam itu tepat saat usia dia juga 13 tahun, dan
sekarang Celine udah bertambah tua 10 tahun, sedangkan anak dalam makam itu
tetap abadi di usia 13.
Selesai dari makam mereka lanjut
menghabiskan petang di amusement park, yaa.. kalo di sini mungkin kayak dufan atau
jungle gitu haha. Mereka naik bianglala dan finally! Shared a kiss di sana. Ngablu
sih bener-bener ngablu. Kayak, well ada angin apa gitu sampe lo mau ciuman sama
stranger? Weheheyy. Cuma gw yakin hal itu terjadi karena mereka sama-sama
nyaman dan menemukan apa yang namanya chemistry. Jesse tau dia menemukan sisi
lain dari seorang Wanita di dalam Celine, begitupun Celine, dia merasa Jesse
itu remaja Amerika yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Di mana menurut dia itu
cute, karena terlepas dari tampang Jesse yang brewokan dan macho banget, tapi
dia masih punya sisi lembut dan polosnya anak kecil. Which is weeew.
Salah satu scene menarik juga
diselipin sutradara di Before Sunrise, yaitu scene saat Jesse dan Celine
berhenti sejenak buat nongkrong-nongkrong di depan salah satu café, dan tetiba
ada ibu-ibu cenayang yang ngakunya bisa baca garis tangan. Dan di situ, Garis
tangan Celine dan Jesse dibaca si cenayang, ya tentu aja si cenayang minta
bayaran abis itu.. wkwk. Si cenayang menjelaskan kalo Celine itu orang yang
berjiwa petualang, dalam masa pencarian dan punya kekuatan dalam dirinya
(semacam girl power gitu), jadi dia kayak gak bisa mengikuti kehendak orang
lain.
Setelah itu mereka melanjutkan
perjalanan ngablu ke gereja tua di Vienna, ke bar main pinball, dan akhirnya
mereka menghabiskan sisa malam di taman (bisa dibilang mereka tidur di taman
sampe pagi wkwk dengan modal anggur merah yang Jesse “rampok” dari pemilik bar.
Di taman mereka akhirnya mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain, kalo
ternyata Jesse dan Celine sama-sama menyimpan perasaan yang tidak bisa
dijelaskan antara satu sama lain.
Jesse sebagai cowok jelas lebih
chill, malam itu dia merasa benar-benar jatuh cinta sama Celine dan sepertinya
gak mau berpisah, sebaliknya Celine yang lebih sensitif dan rasional, dia
merasa menjalin hubungan dengan Jesse hanya akan memperburuk keadaan, krn
Celine tau mereka akan berpisah jarak. Celine dengan kehidupannya, begitupun
Jesse. Celine kayak gak mau kalo malem itu mereka terlibat asmara, mereka akan
susah move on Ketika sudah berpisah.
Film berakhir saat pagi setelah
matahari terbit, Ketika Jesse mengantar Celine Kembali ke stasiun untuk melanjutkan
perjalanannya ke Paris. Sempet ada drama juga waktu adegan mau pamit-pamitan
itu wkwk. Jesse yang lagi-lagi kayak ikhlas gak ikhlas negelepas Celine pergi,
menawarkan untuk bertemu lagi di stasiun yang sama. Scene ini juga agak lucu,
krn awalnya Celine ngajakin ketemuan 5 tahun lagi, tapi kata Jesse itu kelamaan
(yaiyalah keburu jadi istri orang si Celine wkwk), akhirnya Celine ngurangin
lagi jadi 1 tahun, itu juga masih kelamaan kata Jesse (yah dasar ini org aja yg
ngebetan yak wkwk), finally Jesse nawar lagi jadi 6 bulan dan Celine sepakat. Mereka
sepakat ketemuan di stasiun tempat mereka berpisah 6 bulan dari sejak itu,
which is tanggal 16 Juni 1995. Setelah itu, Celine naik kereta dan melanjutkan
perjalanan ke Paris dengan Jesse masih memandangi kereta Celine yang perlahan
bergerak meninggalkan peron. Jesse pun langsung cuss ke bandara pake bus untuk
ngejar penerbangan pulang ke Amerika.
THE END.
******
BEFORE SUNSET
Perjalanan asmara Jesse dan Celine
berlanjut 9 tahun kemudian di BEFORE SUNSET (Sebelum Matahari Tenggelam).
Masih dengan sutradara yang sama dan pemain yang sama (finally!) karena pasti
susah banget buat bikin sekuel film yang udah segitu lamanya dan masih pake
cast yang sama. Sebagai perbandingan, Get Married, Ayat-Ayat Cinta, serta Surga
yang Tak Dirindukan adalah sekian dari banyak contoh judul film yang sekuelnya
ganti pemeran book. Entah kenapa selain ceritanya belom tentu oke, pergantian
pemain ini sedikit banyak ngebuat penggemar film itu jadi kurang mood buat liat
filmnya krn pasti tokoh yang diperankan udah melekat banget sama cast
sebelumnya.
Anyway.. Before Sunset ngambil
tempat di Paris. Kalo sebelumnya, Before Sunrise menjadi pertemuan pertama
Jesse dan Celine di Vienna, sekuel keduanya mereka bertemu Kembali di Paris.
Yes Paris, kampungnya Celine. Terus ngapain Jesse ada di Paris? Apa Jesse
sengaja nyusulin Celine ke Paris?
Jawabannya, Jesse ke Paris bukan
untuk nyusulin Celine, bukan juga sengaja untuk menemui Celine. Jesse ke Paris
karena memenuhi agenda tur promo novelnya di Paris. Ya! Jesse penulis sekarang!
Hihihi
Scene pertama dibuka Ketika Jesse
dan publishernya lagi sibuk menjawab pertanyaan jurnalis/media soal novelnya
(or novel terbarunya, entahlah gak dijelasin itu yang baru terbit novel ke
berapa) di salah satu bookstore di Paris. Novel itu cukup berkesan dan mencuri
perhatian khalayak karena menurut Jesse novel itu diangkat dari kisah nyata
yang terjadi di hidupnya. Singkat kata, Jesse menulis novel berjudul This
Time yang terinspirasi dari pertemuannya dengan Celine di Vienna 9 tahun
lalu. Di sela-sela si Jesse lagi ngejawabin pertanyaan jurnalis soal novelnya,
di sudut pintu bookstrore Jesse melihat sosok perempuan berambut pirang yang
tersenyum ke arahnya. Perempuan itu tak lain adalah Celine dooooong. Ih gemaaay
hahaha
Pertemuan itu Kembali dihinggapi
masalah karena Jesse harus balik ke airport satu jam setelah promosi bukunya di
Paris selesai (kurang lebih sekitar 8 jam lagi). Sementara pertemuannya Kembali
dengan Celine tentu gak mau disia-siain sama Jesse. Alhasil Jesse tanya ke
publishernya apa dia bisa balik ke bandara agak lebih lama, krn ada urusan yang
harus diselesaikan (padahal urusannya ya ketemu si Celine wkwk). Publishernya
bilang Jesse paling lambat harus ke bandara jam 7.30 malem, dan akhirnya Jesse
bilang ke Publishernya kalo mau keliling-keliling Paris sebentar, dan Publishernya
oke tuh, katanya sip nanti biar kalo Jesse mepet balik ke bookstore biar
drivernya aja yang jemput si Jesse. Nomor kontak drivernya pun dicatet Jesse.
Tanpa buang waktu Jesse dan Celine
akhirnya bertemu, memutuskan untuk Kembali berjalan-jalan berkeliling kota
seperti yang dulu mereka lakukan Ketika pertama bertemu di Vienna. Bedanya,
kali ini jalan-jalannya lebih terarah krn ada tour guidenya, si Celine. Wkwk. Kecanggungan
tidak bisa ditutupi keduanya saat bertemu Kembali untuk pertama kalinya. Bahkan
jauh lebih canggung dibandingkan saat pertemuan mereka di kereta Budapest. Kita
pun penonton bisa merasakan kecanggungan yang ada. Yaiyalah 9 tahun aja gak
ketemu tanpa kontak-kontakan, gimana gak awkward weeey. Haha
Mungkin pertanyaan yang terbersit
oleh kita adalah, kenapa kedua orang itu bisa ketemu lagi di Paris? Ya tau sih
mungkin kebetulan karena mereka satu kota, tapi kebetulan semacam apa yang
mempertemukan orang yang udah 9 tahun gak ketemu tanpa kabar tiba-tiba saling
bertukar pandangan di dalam bookstore. Dan ada berapa tempat toko buku juga di
Paris sampe Celine harus ada di toko buku itu di saat Jesse juga lagi promo
novel di toko yang sama? Weird yes. Tapi gak sampe 10 menit sutradara sudah
memberikan jawabannya.
Ini semua bukan kebetulan semata.
Karena Celine sengaja ke toko buku itu siang itu karena dia tau Jesse akan ada di
situ menghadiri promo novelnya. Kok Celine bisa tau? Apa Celine bucin? Haha jadi
cocokologi begini… wkwk. Jadi Celine bilang kalo dia liat gambar (mungkin iklan
kali maksudnya ya) di kalender kalo Jesse bakalan dateng ke toko buku itu untuk
mempromosikan novelnya. Dan lucunya lagi, Celine ternyata pernah baca salah
satu artikel (media) tetang novelnya Jesse itu, dan somewhat Celine merasa
familiar dengan cerita di novelnya itu (yaiyalah itu kan emang tentang mereka
yak haha..) Setelah itu Celine akhirnya beli novelnya Jesse dan bahkan sampe 2x
hatam.
Siang itu, Celine mengajak Jesse
untuk ngopi2 kece di salah satu café di sudut kota Paris. Katanya café itu sering
Celine datangi, bukan cafe yang fancy tapi kopinya enak katanya. Sebagai turis,
ya si Jesse hayuk aja ya… terlebih udah lama gak ketemu Celine. Di sepanjang
perjalanan ke café (jalan kaki btw as usual) Celine memecah kecanggungan dengan
bertanya soal rencana pertemuan mereka di stasiun Vienna 9 tahun lalu. Celine nanya,
apa Jesse beneran dateng 6 bulan setelah itu? Bukannya langsung jawab Jesse
malah nanya balik ke Celine, untungnya Celine gak balik nanya lagi, yang ada
gak kelar-kelar itu gak ada jawbaan wkwk. Intinya, Celine bilang kalo waktu itu
Celine gak nepatin janjinya buat ketemuan lagi di Vienna karena pas banget
tanggal 16 Juni 1995 itu neneknya yang di Budapest meninggal. Merasa gak enak,
Celine nanya lagi ke Jesse apa dia dateng ke Vienna tanggal 16? Jesse menjawab
engga, padahal dia dateng hahaha.
Sepanjang perjalanan mereka terus
ngobrolin soal novel Jesse, dan gimana nasib dia waktu dateng ke Vienna dan si
Celine gak dateng, di percakapan yang masih sama serunya Ketika pertama kali
mereka bertemu, Celine cerita kalo sekarang dia kerja jadi aktivis peduli
lingkungan hidup/environmentalist gitu, dan gak lama setelah itu mereka
langsung hangat membicarakan soal topik lingkungan, seru deh ngeliat gimana
Jesse dan Celine terus asyik ngobrol walopun di beberapa sisi mereka kerap
punya pendapat yang beda. Kecanggungan pun kian mencair bergati dengan situasi
di mana kayak masing-masing mereka ketemu temen lama aja.
Selanjutnya, seperti pola yang
dipakai di film sebelumnya, obrolan mereka di café kian intens, Celine mulai
nanyain akan berapa lama Jesse berada di Paris, dan konyolnya. Mereka tuh dua
teman asing yang kayak bener-bener ditakdirin tapi belum bisa Bersatu. Ternyata
setelah nyelesain kuliah di Prancis, Celine merantau ke New York buat ambil
studi lagi di NYU. Di saat yang sama, Jesse juga ternyata udah pindah dari
kampungnya di Texas ke New York. Jadi bisa dibilang sebenernya mereka ada di
region yang sama di periode itu. Sayangnya masing-masing gak tau kalo sama-sama
satu kota krn terakhir mereka pisah di Vienna gak saling tukeran kontak,
njiiirrr goosebumps.
Setelah ngopi-ngopi kece sebentar,
mereka melanjutkan perjalanan. Jesse yang lagi-lagi jadi turis di negeri orang,
minta Celine buat ngajak dia keliling-keliling Paris sebelum bertolak lagi ke Amerika.
Celine mengiyakan. Mereka menelusuri seluruh jalanan kota Paris, pergi ke taman,
dsbg. Dari obrolan yang terus terjalin akhirnya penonton diberi pencerahan
tentang apa yang terjadi di taman di Vienna malam itu sebelum akhirnya pada pagi
hari Jesse pulang ke Texas di film pertama. Jesse mengklaim kalo malam itu
mereka berbuat sesuatu di taman, tapi Celine dengan tegas membantah, katanya
waktu itu Jesse gak bawa comdoms, makanya gak mungkin terjadi hal yang aneh-aneh
di taman itu, tapi Jesse terus bersikeras teguh pada pendirian kalo mereka
emang melakukan sesuatu. Nah loh entah deh ini yang mana yg pikun. Wkwkwk
Pembicaraan sepanjang di taman
terus ngablu seperti biasanya, Jesse dan Celine 9 tahun kemudian seperti tidak
ada bedanya dengan saat mereka pertama kali ketemu sebagai muda-mudi 23 tahun
di kereta di Budapest. Obrolan mulai intens Ketika Celine berceloteh bagaimana
kalo hari itu hari terakhir mereka hidup? Dan mereka akan mati keesokannya.
Such a random thoughts.. hahaha. Jesse dengan lantangnya bilang, kalo hal itu
terjadi maka hari itu juga Jesse akan menghabiskan waktunya Bersama Celine di
kamar hotel, mengadu asmara secara liar sampe akhirnya mereka beneran mati. Hahaha
SO RANDOM BUT FUNNY! That’s why I love this couple 😊
Celine dan Jesse terus ngobrol
ngablu sampe akhirnya Celine buka suara soal hobi dia nyanyi dan nulis lagu. Dan
Jesse tampak tertarik sama bakat seni Celine yang pandai menulis lagu. Alih-alih
Panjang lebar ngobrolin soal lagu, Celine buru-buru ngajak Jesse buat balik ke
bookstore karena takut Jesse ketinggalan pesawat. Gak sampai di situ, Before
Sunset terus memberikan kejutan demi kejutan setalah 9 tahun berlalu. Jesse
ternyata sudah menikah dooong dan bahkan udah punya satu anak balita namanya
Henry (panggilannya Hank). Jesse dan keluarga kecilnya tinggal di Chicago.
Istrinya seorang guru SD, dan ya mereka menjalani kehidupan rumah tangga
sebagaimana masyarakat Amerika pada umumnya. Sementara Celine? Jomblo? Ngga dooong
haha, Celine pun udah punya pacar weey, pacarnya seorang fotografer jurnalis yang
sering meliput kejadian-kejadian penting, kayak perang dsbg. Wow.
Again. Obrolan tetep seru
meskipun mereka saling tau masing-masing udah punya kehidupan asmara sendiri-sendiri.
Jesse dengan keluarganya dan Celine dengan pacarnya. Tapi di antara mereka
kayak gak ada butthurt atau saling kecewa… sampai detik itu ya, haha. Jesse
yang Kembali ke kebiasaan lamanya (mau lama-lama ngabisin waktu bareng Celine),
mutusin buat ngajak Celine naik Perahu. Tau kan kota-kota di Eropa, salah
satunya Paris terkenal sama transportasi air yang bagus. Alih-alih jalan kaki
ke bookstore, Jesse ngajak Celine buat berlayar naik perahu (tau deh mungkin si
Jesse ngerasa udah mulai tua, jd capek jalan kaki kali ya haha). Celine yang
awalnya ragu karena again, takut Jesse terlambat sampai bookstore dan rada
mager juga boook dia naik perahu2 begitu, secara yang naik perahu itu rata-rata
turis, sementara dia kan warga asli Paris (yaaah mungkin kalo ibarat di Jakarta
kayak naik wara-wiri di TMII atau monas kali yaa.. kayak gila mager banget org
Indo naik gituan), tapi pada akhirnya Celine kalah juga, dia akhirnya
menyanggupi permintaan Jesse buat naik perahu.. (Ya mungkin dipikirnya sebagai
tuan rumah yang baik harus menyambut tamu dgn baik, haha)
Jalan-jalan ngablu lagi naik
perahu sedikit menghapus kekhawatiran Jesse krn dia tau dia dibekali nomor drivernya
tadi pagi, jadi tinggal kontak aja mau dijemput di mana… Yaelah enak banget ya
jadi penulis terkenal, apa-apa akomodasinya lancer kayak jalan tol wkwkwk. Di perahu
mereka ngobrol apa? Banyak. Mostly sih Jesse ngobrolin tetang ketidakpuasan dia
sama kehidupannya sekarang… aww… so sad… Jesse merasa rumah tangganya tidak
berjalan sebagaimana yang dia impikan. Celine tadinya berpikir apa yang Jesse
rasakan mungkin akibat rasa jenuh karena sekarang dia punya anak kecil, jadi
perhatian istrinya terbagi untuk anaknya juga. Tapi Jesse menyangkal bukan itu penyebabnya.
Turun dari perahu, Jesse dan
Celine disambut oleh driver yang sudah siap mengantarkan Jesse ke airport, tapi
coba tebak.. lagi-lagi Jesse mau menunda perpisahannya dengan Celine (lagu lama
yeee) haha. Jesse menawarkan untuk mengantarkan Celine pulang ke rumahnya Bersama
drivernya. Karena merasa tidak harus banyak perdebatan lagi, Celine mengiyakan,
meskipun dia tetap khawatir akan penerbangan Jesse yang anjirr udah mepet. Ibarat
kata, dua jam lagi boarding!! Aakk
Di mobil perjalanan ke rumah
Celine, mereka terus ngobrolin, tapi kali ini seperti puncakya. Kalo di film
sebelumnya puncak obrolan mereka ada di taman Vienna pada malam hari sebelum
matahari terbit, di film ini terjadi sore hari sebelum matahari terbenam di dalam
mobil sepanjang jalan menuju rumah Celine. Jesse dan Celine kayak saling
ngungkapin kekesalan dan unek-unek mereka dalam hidup. Celine yang hampir mewek
karena love lifenya selalu berakhir buruk karena semua cowok yang dipacarinnya
berakhir mutusin hubungan dan nikah sama cewek lain. Celine yang udah cantik begitu
aja masih ngerasa insekyur karena ngerasa dia pribadi yang buruk banget sampe
cowok-cowok gak ada yang ngajakin dia nikah. Njiiirrrr.
Begitupun Jesse, gak mau kalah dari
cerita sedih Celine, Jesse bilang kalo hidup dia jauh lebih buruk dan
depressing dari yang Celine alami. Jesse sebagai pria beristri merasa kehidupan
rumah tangganya berantakan, bahkan mereka (Jesse dan istrinya) beberapa kali
pergi ke konseling perkawinan demi menyelesaikan problematika rumah tangga
mereka. Tapi semua saran yang diberikan konselor gak ada yang berhasil menurut
Jesse. Terlebih Ketika Jesse menatap anak semata wayangnya, dia semakin merasa
tersiksa karena gak bisa ngasih potret keluarga sempurna di hadapan anaknya. Iya
sih… gila itu bener2 depressing. Dah lah intinya dua sejoli ini sama-sama
depressed.
Di mobil, finally a confession
was made. Jesse mencoba jujur sama Celine kalo dia gak bisa ngelupain Celine
terakhir mereka pisah di Vienna. Jesse terus membayangkan Celine yang bersamanya,
bahkan Ketika hari pernikahannya, Jesse membayangkan yang jalan di altar itu
Celine bukan istrinya, wkwk ah ini sih anjay banget sebenernya (kalo gw jadi istrinya:
ngapain lo ngawinin gw gajaaah). Bahkan Ketika istrinya hamil pun, Jesse masih
terus ngebayangin yang hamil itu Celine. Ah gila sih ini udah obsessed sejak
perpisahan di Vienna kayaknya.
Acara saling curcol ini malah
akhirnya membuat mereka masing-masing tersenyum dan bahkan tertawa karena begitu
miserable nya kehidupan mereka ternyata. Mobil sampai di depan apartemen Celine
(apartemennya lebih mirip rusun sih, karena bukan bangunan apartemen yang
modern gitu.. tapi lebih ke apartemen kuno di pinggiran kota yang gak
bagus-bagus amat). Celine turun, Jesse ikutan turun. Guess what? Jesse
lagi-lagi nawarin buat nganterin Celine ke dalam apartemennya (yah modus apaan lagi
ini ya si Jesse haha). Gak jadi berpisah Jesse akhirnya minta buat mampir
sebentar di apartemen Celine buat dengerin salah satu lagu ciptaannya. Inget
kaaan tadi Celine bilang kalo dia hobi nulis lagu? Nah ini kayaknya si Jesse
kesempatan ada alas an sok-sokan mau dengerin lagu buatan Celine biar (again)
bisa lama-lama ngabisin waktu bareng.
Singkat cerita, di dalam
apartemen Celine mainin salah satu lagu ciptaannya, seperti yang Celine ungkapkan
lagu itu tanpa judul hanya berirama waltz. Celine menyanyikan lagunya dengan
gitar. Tapi dari liriknya (again) kita bisa menyimpulkan kalo lagu itu tentang
Jesse. Duh ini mereka fate banget. Yang satu mengungkapkannya dengan novel,
satunya lewat lagu. Dahlah ambyaar.
Celine yang punya koleksi album music
super banyak di apartemennya, out of nowhere ngebuat Jesse tertarik dan mengambil
salah satu CD miliknya dan muterin di tape di ruang tamu Celine. Album itu
milik salah satu penyanyi Amerika bernama Nina Simon. Celine yang punya
pengalaman dateng ke konser Nina Simon, menceritakan gimana serunya menyaksikan
pertunjukan musik Nina. Dengan sedikit gestur Celine memparodikan gimana Nina
menyapa audiensnya saat konser. Tanpa disadari gestur Celine sangat menghibur
Jesse, yang beberapa menit lalu gundah dengan segala problematika hidupnya.
Mereka pun larut dalam alunan musik Nina Simon. Sampai akhirnya Celine berkata ke Jesse dengan menirukan gaya
bicara Nina Simon yang slightly seducing, dia berkata “Sayang, kamu akan
ketinggalan pesawat itu”, tanpa berpikir Panjang, Jesse menjawab “Aku tahu”
diiringi tawa renyahnya memandang gestur lucu Celine.
THE END.
******
BEFORE MIDNIGHT
Trilogi Before ditutup manis
dengan film ketiga sekaligus terakhirnya, BEFORE MIDNIGHT (Sebelum Tengah
Malam). 18 tahun berlalu sejak Jesse dan Celine pertama kali bertemu, dan 9
tahun sejak mereka sama-sama reunian kecil di Paris. Ada yang berubah? Tentu iya.
Jesse dan Celine menua, yaiyalah udah pasti itu mah. Pokoknya di film ketiga
kalian akan liat sosok Jesse dan Celine yang udah mulai banyak kerut-kerut di
muka, Celine juga udah gak selangsing dulu… walopun bukan yang gendut gimana
juga, tapi ya keliatanlah bodi emak-emaknya. Wkwk. Gimana dengan Jesse? Masih nulis,
masih hobi travelling, Cuma kali ini engga ngablu sendiri tapi sama keluarganya,
eaaaa.
Film dibuka dengan adegan Jesse yang
mengantar anaknya Henry atau biasa dipanggil Hank ke airport untuk pulang ke
Chicago. Jadi ceritanya, Jesse dan istrinya yang guru SD itu udah resmi
bercerai dan Hank baru saja menghabiskan liburan musim panas sama Jesse di
Yunani. Sambil mengantar anaknya menuju gate boarding, Jesse terus menjalin
percakapan panjang dan konstan khas Trilogi Before dengan Hank. Dari situ, kita
penonton bisa menyimpulkan kalo hubungan Jesse dan anaknya gak deket-deket
banget. Ya, deket sih, tapi Jesse selalu merasa ada ruang hampa di antara dia
dan Hank. Hank yang saat ini udah beranjak remaja berusia 15 tahun (dah abg
yeee), dalam waktu dekat akan mengikuti turnamen sepakbola di sekolahnya, tapi
lagi-lagi usaha Jesse untuk menjalin kedekatan dengan janji mau menghadiri
turnamen sepakbola Hank, ditolak Hank dengan halus. Hank merasa, hubungan Jesse
dan ibunya yang kurang baik akan menambah beban pikiran Hank Ketika berkompetisi.
Kayaknya si Hank ini gak mau kalo nanti harinya jadi ruined kalo bapak ibunya
dateng tapi ya kondisinya gak akur. Ya malesin gitu kan liatnya bikin gak
semangat. Walopun Jesse lagi-lagi bersikeras meyakinkan Hank kalo segalanya
akan baik-baik saja, Hank tetap menolak tawaran Jesse untuk ditemani pada saat
turnamen. Mbuh lah sakerepmu son, mungkin begitu pikir Jesse. Setelah memastikan
dari kejauhan bahwa anaknya melewati gate boarding, Jesse menghela napas.. Kek
berat bangeet gitu hidupnya haha. Jesse berjalan keluar airport untuk Kembali ke
mobil. Di sana udah menunggu Wanita yang gak asing lagi buat kita penonton. Dialah
Celine. Saat ini, Celine sudah resmi menikah dengan Jesse (akhirnyaaa yeee),
haha. Celine yang sambil telponan (entah sama siapa) menunggu Jesse di luar
mobil. Melihat Jesse keluar airport, mereka Bersama-sama masuk ke dalam mobil
untuk melanjutkan perjalanan, di kursi belakang kalian akan menemukan
pemandangan yang peacefulll banget, karena surprisingly, sekarang Jesse dan
Celine udah dikarunai sepasang anak kembar yang cantik-cantik berusia 8 tahun bernama
Ella dan Nina. Rambut panjang dan pirang, membuat kita melihat diri Celine
dalam tubuh si kembar.
Sejak scene awal kita sudah
diberi gambaran bahwa mereka sedang dalam masa liburan musim panas. Keluarga
Jesse dan Celine beserta Hank anak Jesse dari mantan istrinya berlibur ke
Yunani, dan menginap di salah satu rumah dari kerabat mereka, Pattrick salah
satu penulis senior yang juga teman Jesse. Perjalanan dari airport ke
penginapan mereka ditempuh cukup Panjang, mungkin kayak dari rumah gw ke Soetta
kali ya, haha. Sepanjang perjalanan, Jesse dan Celine Kembali pada rutinitas
lama mereka. Ngobrol. Tapi lagi-lagi film ketiga ini bener-bener berkembang,
atau bisa dikatakan sejak Before Sunset pun udah berkembang. Topik pembicaraan
mereka gak lagi ngablu atau setidaknya gak sengablu di film pertama dan kedua.
Obrolan mereka saat ini bener-bener obrolan yang pasutri banget. Ngomongin soal
kerjaan, domestic chores, anak-anak, pokoknya yang bener-bener keseharian
mereka banget sebagai sebuah keluarga. Sedikit sekali kita temukan obrolan yang
filosofis dan penuh makna layaknya Jesse dan Celine muda yang walking around
Vienna di scene-scene awal.
Bedanya, entah kenapa walopun
topik obrolannya berubah jadi agak low quality karena ngomongin soal rumah
tangga mereka dan terkesan less interesting bagi Sebagian orang (terutama
penonton yang udah kepalang tersihir sama gairah Jesse dan Celine muda yang
obrolannya bisa panjang lebar soal filosofi seluk beluk kehidupan), tapi kita
masih bisa melihat sisi menarik dari obrolan yang mungkin terkesan membosankan
itu. Kayak Celine yang bahas soal Jesse yang males bersih-bersih, ngomongin
soal Hank yang mulai puber dan tertarik sama lawan jenis, soal liburan mereka
dan soal betapa payahnya mereka sebagai orang tua. Semua obrolan ringan seputar
rumah tangga itu kayak ada dinamisasinya, kadang tense, tapi dibumbui dengan
tawa juga. Gemes deh liatnya. Bisa dilihat perubahan mereka seiring bertambahnya
usia. Dan role mereka sebagai pasutri juga ngaruh ternyata pada perubahan di
diri mereka, juga Ketika kita sebagai penonton memandang Jesse dan Celine saat
ini.
Kalo sebelumnya (di film pertama
dan kedua), Jesse cenderung jadi role yang dominan (baik di percakapan mereka
berdua, atau Ketika mereka hanya sekadar menghabiskan waktu Bersama), Jesse
selalu jadi pencetus dan Celine jadi sosok yang mengimbangi. Setiap Jesse
membuka pembicaraan atau memberikan umpan, di sisi lain Celine selalu jadi
penyeimbang. Celine kayak wadah penampung air, sementara Jesse tekonya. Hampir di
setiap scene mereka di dua film pertama, Jesse terlihat lebih dominan, memulai
topik pembicaraan, membuka cakrawala, memancing Celine untuk mengeluarkan isi
kepalanya. Sebaliknya, di film ketiga, roda seperti berputar. Jesse gak lagi
jadi sosok laki-laki yang penuh dengan gagasan dan ide-ide untuk diungkapkan. Jesse
di sini lebih laid back, lebih chill/santai, terlihat sosok bapak-bapak middle-aged
beranak 3 yang emang udah tinggal nikmatin sisa-sisa hidup dari menulis. Dari segi
fashion pun kita bisa liat, Celine yang walopun udah ibu-ibu tapi masih tetep
keliatan kece pake dress sleveeless, dan di sisi lain, Jesse udah makin cuek
tampangnya haha. Kita gak lagi liat sosok Jesse sebagai cowok kece yang seksi pake
jaket kulit seperti di film pertama, atau terlihat maskulin dibalut setelan jas
seperti Jesse di film kedua. Jesse saat ini hanyalah Jesse yang cuek dengan
kaos slimfitnya, atau kemejanya yang bahkan gak jelas krn setengah sisinya
dimasukin ke dalam celana, setengahnya lagi dibiarkan keluar. Jesse yang
rambutnya terlihat agak gondrong dan berminyak haha. Pokoknya keliatan banget
bapak-bapaknya, walopun dari segi ukuran badan Jesse gak nambah gemuk, nambah
kurus iya kayaknya haha. Pikiran kali ya anaknya udah 3 booook.
Anyway, di paruh-paruh awal sampe
pertengahan film ketiga gw sempet merasa ada penurunan intensity di percakapan
khas Trilogi Before. Ada banyak faktor, salah satunya mungkin karena semakin
banyak cast yang terlibat. Walopun mereka hanya supporting, tapi entah mengapa kayak
lebih seru liat percakapan intimate antara Jesse dan Celine, ya cuma mereka
berdua. Dibandingkan harus mendengarkan obrolan keroyokan dengan
kerabat-kerabat mereka di Yunani. Tapi, kehadiran supporting cast ini
sebenernya patut diacungi jempol juga sih, karena dari obrolan rame-rame di
meja makan itu, memancing Jesse dan Celine untuk mendiskusikan lebih jauh
tentang korelasi antara buku yang ditulis Jesse dengan kehidupan nyata mereka. Salah
satu scene di mana mereka melakukan perbincangan di meja makan dengan Pattrick dan
keluarganya cukup intens tapi hangat, saling berdiskusi bagaimana pertama kali
Jesse dan Celine saling bertemu (btw di film ini ceritanya Jesse udah nulis 2
novel, pertama yang judulnya This Time terinspirasi dari pengalamannya
pertama kali bertemu Celine di Vienna, dan lanjutannya berjudul That Time,
yang menceritakan bagaimana mereka bertemu Kembali di Paris.
Obrolan di meja makan dengan
keluarga besar Pattrick seperti semakin menunjukkan dominasi Celine dalam rumah
tangga mereka, seperti yang gw bilang sebelumnya kalo Jesse yang sekarang bukan
lagi Jesse yang full of ideas, pencetus ide, pujangga dan sebagainya, roda berputar.
Saat ini Celine yang lebih banyak ngomong (ya walopun Celine muda juga dulu
cuwawaan sih..), tapi auranya beda aja gitu, Celine yang sekarang udah berubah
jadi ibu rumah tangga yang ceriwis, yang suka becandain suaminya di depan
teman-temannya, haha sounds so real!
Untungnya scene Jesse dan Celine
yang berinteraksi sama Pattrick sekeluarga gak bertahan lama, menit ke-46 sutradara
udah mulai back on the track sebagaimana pola Trilogi Before yang original,
obrolan dua arah antara Jesse dan Celine, ya cuma fokus ke dua tokoh utama itu.
Jesse dan Celine yang cuma punya waktu tersisa beberapa hari di Yunani
memutuskan buat spend the night di hotel room, belakangan kita tau kalo “voucher
nginep semalem” itu hadiah dari Pattrick dan keluarganya buat Jesse dan Celine,
wkwkwk biar tetep romatis kali gitu yee maksudnya. Sementara Ella dan Nina,
anak-anak mereka tetep stay di rumah Pattrick.
Again. Bisa ketebak banget mereka
jalan ke hotelnya pake apa? Jalan kaki dong… asli ini kayaknya 20 tahun lagi,
Jesse dan Celine bakalan jadi pasangan lansia paling sehat seantero Paris wkwk.
Dan percakapan mereka sepanjang jalan ke hotel itu masih super seru, sama
serunya kayak obrolan mereka waktu menyusuri jalan di Vienna 18 tahun lalu, dan
pas keliling kota Paris 9 tahun lalu. Padahal, kondisinya saat ini mereka udah
menikah, dan yang udah-udah, problematika orang yg udah nikah itu ya kehilangan
sense of humor, gak bisa lagi menikmati masa-masa ngobrol kayak waktu masih
pendekatan atau pas masih pacaran, semuanya kayak udah gak fun lagi. Tapi kita
gak menemukan itu di Jesse dan Celine, mereka masih dua orang yang sama.
Sambil menyusuri bukit-bukit tua
di Yunani, Jesse dan Celine saling bertukar cerita, mostly tentang apa saja
yang pernah mereka lalui. Celine menyinggung soal surat yang pernah Jesse tulis
20 tahun lalu untuk dirinya sendiri yang berusia 40 tahun, Jesse pun masih
ingat samar-samar apa yang dia tulis, dan nyaris sulit percaya kalo sekarang
dia beneran udah 41 tahun. Tak jarang Celine menyelipkan jokes di sela-sela
obrolan seru mereka, Celine mengutarakan kalo Jesse adalah pria tertua yang
pernah dia tiduri sepanjang hidupnya hahaha. Dan Jesse pun mengumbar tawa Bahagia.
Celine pada akhirnya memberikan
pertanyaan penuh makna pada Jesse, dia bilang kalo aja mereka pertama kali
bertemunya sekarang, di usia yang saat ini udah sama-sama menginjak 40 tahun,
apa Jesse masih memandang Celine menarik dan mau mengajak Celine turun dari
kereta? Jesse pun dengan cepat menanggapi, “apa itu tidak berselingkuh namanya?”
(ya maksudnya sekarang kan Jesse di kehidupan nyata udah nikah dan punya anak
gitu..). Lucunya, mendengar jawaban Jesse yang kayak gak pake mikir, wkwk,
Celine malah ngambek, katanya “Lo tuh kenapa gak bisa romatis? Tinggal bilang iya
aja” hahaha. That’s funny though. Tapi at the end, Jesse tetep ngasih jawaban
yang memuaskan buat Celine, meski agak geli dengernya krn semakin tua dia
semakin pervert hahaha.
Jesse juga bercerita kalau
beberapa saat lalu dia baru mendapat kabar kalo kakeknya yang udah menikah
selama 74 tahun meninggal dunia. Celine kayak agak kaget dengernya, mungkin
kagetnya dobel, kaget sedih sama kaget sama rentang waktu lamanya pernikahan
kakeknya Jesse, langgeng banget. Dari obrolan kematian kakek Jesse itupun,
Celine Kembali berucap, membayangkan gimana kalo mereka beneran bisa sama-sama
selama rentang waktu pernikahan kakek-neneknya Jesse. Dan Jesse pun memberikan
tanggapan kalo dia selalu membayangkan untuk menikmati masa tua Bersama Celine
sampai mereka dipisahkan oleh maut, aww….. elah diabetes deh udah. Pokoknya
obrolan mereka asli seru banget, sekali dua kali mereka bertukar canda dan
akhirnya tertawa bersama menyaksikan kekonyolan satu sama lain.
Sebelum sampe ke Hotel, mereka
sempet mampir ke salah satu chapel (gereja kecil) tua di antara bangunan tua
kota Peloponnese, di selatan Yunani. Sebagai Nasrani yang taat, Jesse tentu
punya banyak pengetahuan soal bangunan-bangunan gereja tua, mungkin ini sedikit
mengingatkan kita waktu Jesse membawa Celine ke salah satu gereja tua di Vienna
18 tahun lalu, cara Jesse bertutur menceritakan soal sejarah gereja masih sama
magnetiknya, menghipnotis kita yang nonton seakan Jesse bener-bener seorang arkeolog/ahli
sejarah, haha. Sebaliknya, Celine yang awalnya cenderung atheis, atau gak tau
sih kalo sekarang dia beneran udah punya agama atau belum, gak bisa berhenti
mengutarakan jokes2 witty bahkan di dalam Chapel sekalipun, wkwk. Emang pasangan
sableng.
Merasa sudah dekat dengan hotel,
mereka memutuskan untuk mampir sebentar di tepi pantai buat sama-sama ngeliat
sunset (belakangan pas ending akhir penonton akan tau kalo posisi hotelnya
emang deket pantai), sumpah scene ini tuh bikin kicep, gw yakin penonton yang
liat film ini di bioskop pasti seisi ruangan diem dan hening pas nyaksiin Jesse
dan Celine menanti matahari terbenam. Gak banyak kalimat dan dialog seperti
sebelumnya, scene sunset ini Cuma diisi dengan suara Celine yang menantikan detik
demi detik matahari terbenam, “Still there… still there… still there.., gone.” kurang lebih begitu dialognya. Dan Jesse? Cuma tersenyum memandang betapa
indahnya langit sore itu seindah perempuan paruh baya yang duduk di sampingnya.
Anget banget deh pokoknya ini scene.
Sesampainya di hotel, akan banyak
kejutan. Entah gw mau nyeritain kejutan ini atau membiarkan segalanya menjadi
rahasia buat yang nonton. Tapi well, mungkin gw akan kasih tau sedikit soal apa
yang terjadi di hotel room malam itu. Bisa dibilang adegan di kamar hotel
bakalan jadi adegan paling intens yang terjadi di sepanjang Before Midnight. Karena
di dalam kamar hotel inilah akhirnya perdebatan antara mereka terjadi, bukan
sekadar Jesse yang malas bersih-bersih atau soal remeh temeh lainnya,
perdebatan itu melibatkan seluruh emosi kedua orang itu. Awalnya di 3 menit
pertama kita akan disajikan pemandangan yang intim dari mereka berdua, jujur
dari sejak film pertama, Trilogi Before ini memang sedikit dan nyaris gak ada
scene di mana Jesse dan Celine beneran mesra-mesraan memadu kasih layaknya
film-film Hollywood lainnya yang baru menit-menit awal aja udah nyosor kayak
soang haha. Nope, ini gak terjadi di Trilogi Before, setidaknya sampai di saat Jesse
dan Celine yang udah sama-sama berusia 41 tahun menghabiskan malam (yang
harusnya) romantis di hotel di Yunani. Hadiah menginap semalam ditambah couple
massages dari Pattrick kayaknya bakalan sempurna banget buat Jesse dan Celine
kalo aja gak ada dering telpon di tengah-tengah sesi making out mereka, hahaha.
So typical. Distraction during sex.
Celine yang udah setengah “outdoor”
alias topless, harus angkat telepon yang dikiranya emergency call karena si
kembar dititipin di rumah Pattrick, nyatanya yang nelepon malah anak tirinya,
si Hank. Ya, Hank. Percaya gak, ini hal yang sebenernya sedari awal film bikin
Jesse gundah gulana galau gelisah. Wkwk. Hank yang notebennya anak Jesse,
nyatanya lebih ngerasa dekat dan nyaman sama Celine. Entah ini si Jesse cemburu
karena anaknya lebih deket sama istrinya yang statusnya ibu tirinya atau gimana
gitu, intinya si Jesse ini ngerasa yang harusnya punya bonding yang lebih itu
ya Hank sama dia, bukan sama si Celine. Mungkin buat bapak-bapak di luar sana
dengan kondisi udah cerai dan punya anak yang diasuh sama mantan istri bakalan
punya perasaan duka yang sama kayak Jesse.
Sebenernya si Hank nelepon Celine
pun bukan yang pengen ngobrol lama-lama atau gimana, Hank Cuma ngasih tau
Celine kalo tugas praktikum ilmiah dia ketinggalan di Yunani (kan kemaren abis
summer holiday tuh bareng Jesse dan Celine), makanya si Hank minta kirimin
tugasnya aja lewat email, dan Celine mengiyakan. Setelah telepon dari si Hank
ditutup, belum sempet pemanasan lagi, si Jesse malah curcol ngablu ngomongin
soal hubungan antara dia dan Hank yang kurang baik. Dari percakapan itu juga kita
dikasih tau kalo hubungan mantan istri Jesse dan Celine tuh gak baik, begitupun
dengan si Jesse (kayaknya sih karena kejadian di Before Sunset, Jesse gak lama cerain
istrinya dan menjalin hubungan dengan Celine). Ya kurang lebih gitu lah…
Agak mengejutkan kalo dari percakapan
itu begitu banyak informasi yang diselipkan sutradara tanpa harus menggunakan metode
monolog atau cara lain demi sekadar mendeskripsikan seperti apa mantan istri
Jesse. Kalau penonton ingat, tokoh itu hanya sekelibat disebutkan di Before
Sunset, Jesse yang kala itu masih menikah dengan mantan istrinya menceritakan
kalau istrinya adalah guru SD yang baik, Cuma itu aja. Penonton gak dapet
deksripsi lebih seperti apa ibunda Hank. Sampai pada akhirnya, dari perdebatan
di hotel room kita tau kalo ibunda Hank adalah seorang pemabuk dan abusive mother
(mungkin itu salah satu factor kenapa Hank jadi dekat secara emosional dengan
Celine (ya mungkin Celine bisa jadi figur ibu yang baik buat Hank). Tentu,
label itu keluar dari mulut Celine, yang lagi-lagi kita gak tau apakah itu Cuma
pandangan subjektif Celine aja, atau emang bener kalo mantan istri Jesse seperti
itu. Gak ada penjelasan lebih jauh kenapa seorang guru SD yang baik hati bisa
berubah drastis jadi ibu yang hobi mabuk dan abusive.
Sikap Jesse yang laid back dan
Celine yang keras makin terlihat di Before Midnight. Setiap kali Celine
menyinggung soal ibunda Hank yang “gak becus ngurus anak” sehingga Hank
terkesan kurang perhatian, terlebih Hank tinggal Bersama ibunya membuat Jesse
kesal dan tersinggung. Jesse di sini terlihat berusaha fair dengan gak mau
banyak komentar negatif tentang mantan istrinya, di sisi lain, Celine lebih
blak-blakan mengungkapkan problematika yang emang nyata terjadi di kehidupan
mereka: Jesse yang ngerasa kurang bisa deket sama Hank, Hank yang dirundung
bayang-bayang anak broken home, dsbg. Celine berusaha jujur dengan apa yang
mereka alami, dan seperti berharap Jesse dan dirinya menemukan solusi untuk
memperbaiki apa yang salah dari hidup mereka. Sebaliknya Jesse, si laid back
dan passive aggressive selalu berusaha menghindari keributan semacam ini, entah
trauma masa lalu karena salah satu akibat perpisahan Jesse dan mantan istrinya
adalah ketidakmampuan menyelesaikan konflik internal mereka.
Di tengah-tengah perdebatan mereka yang kayaknya makin panas, Jesse memilih untuk mengalah dan melanjutkan malam romantisnya dengan Celine, sayangnya tensi perdebatan yang udah terlanjur tinggi ngebuat Celine hilang mood untuk membuat malam itu indah. Semakin lama unek-unek yang dilontarkan Celine seperti makin banyak, perdebatan awal soal Hank akhirnya melebar Ketika Celine menyinggung soal keinginan Jesse untuk pindah ke Chicago demi lebih dekat dengan anak laki-lakinya. Celine merasa, selama ini dia udah ngorbanin segalanya buat ngikutin karir Jesse yang seorang novelis.
Scene ini makin lama tensinya
makin naik. Semakin Celine ngoceh, si Jesse yang tadinya berusaha kalem-kalem
aja yang penting dapet jatah dan bisa bobo nyenyak, akhirnya kepancing juga
gengs. Diskusi soal Hank, sebenernya Jesse dan Celine sama-sama mau memberikan
kasih sayang ke Hank, bedanya, Celine lebih frontal dengan mau mindahin Hank ke
Paris supaya bisa hidup sama mereka, sedangkan Jesse ngerasa gak adil buat Hank
kalo harus ngajak dia tinggal di Paris, krn biar gimana Hank masih punya ibu di
Amerika. Intinya sih si Jesse ngajak pindah ke Amerika, tapi Celine gak mau krn
udah betah di Prancis dan ngerasa useless pindah ke Amerika tapi hak asuh Hank
masih ada di mantan istrinya Jesse. Sampe situ aja udah complicated ini obrolan.
Scene ribut-ribut gemas ini
semakin Panjang, setidaknya di sudut sempit di kamar hotel mereka udah
mendiskusikan buanyak banget hal, soal Hank, soal Celine yang ngerasa udah give
up banyak impiannya untuk mendukung karir Jesse, soal Jesse yang ngerasa makin
diintimidasi sama cara berpikir Celine dan mungkin Jesse juga udah mulai
insyekur sama pekerjaan dia yang Cuma novelis. Sampe puncaknya, Celine yang
udah super duper darting sama perdebatan mereka akhirnya menyerah. Kata-kata yang
seharusnya gak boleh diucapin itu toh akhirnya terucap. “I don’t think I love
you anymore.” Tutup pintu, Celine ninggalin Jesse sendirian di kamar hotel.
Selesai?
Belom. Haha
Celine ternyata pergi dari kamar Cuma
mau menenangkan diri… tau kan, kalo kita lagi kesel parah biasanya butuh waktu
sendiri, sekedar nepi di trotoar jalan, atau duduk-duduk di depan indomaret
point. Malam itu Celine memilih tepi pantai tempat dia dan Jesse memandangi
sunset sore tadi.
Layaknya bapak-bapak yang udah
berumur, dan suami yang macem udah paham banget watak istri, Jesse nyusulin
Celine ke tepi pantai. Kayak otw bujuk-bujuk gemes biar emosi melunak dan mau
diajak balik ke hotel, takut masuk angin kalo kelamaan kena angin laut wkwk. Tapi
suwer deh, kalian bener-bener harus nonton demi liat usaha Jesse buat meredakan
amarah Celine di tepi pantai. It’s all ridiculous yet funny. Jesse mulai
ngomong ngablu kalo dia time traveller dari masa depan, dan ngebawa secarik
surat dari Celine yang udah berumur 82 tahun. Intinya surat itu berisi petuah
Celine tua untuk Celine muda untuk tetap bertahan dengan pria muda yang ada di
hadapannya (si Jesse maksudnya), karena dia adalah pria yang ditakdirkan Tuhan
untuknya. Pria itu emang punya segudang kekurangan tapi Celine muda akan Bahagia
dengannya. Celine tua juga berpesan kalo Celine muda gak perlu banyak khawatir
akan ups and downs kehidupan yang dijalani karena semuanya akan baik-baik saja.
Di momen itu mungkin amarah
Celine benar-benar perlahan mencair, walopun masih ada kesel-keselnya dikit tapi
Celine seakan gak kuat liat tingkah Jesse yang super konyol ngablu ngaku-ngaku
time traveller Cuma demi minta maaf ke dia. Celine merasakan betapa Jesse
sangat amat mencintainya, mereka seakan Kembali ke masa-masa awal pertemuan mereka
di Vienna 18 tahun lalu, bahwa Jesse tidak pernah berubah. Dia selalu jadi teman
ngobrol yang asyik buat Celine dengan segala filosofi dan metafora yang
dibuatnya. Sampai pada akhirnya, Celine menanggapi jokes Jesse dengan bertanya,
gimana cara kerja mesin waktunya? Dan mereka ending up ngablu bersama larut
dalam imajinasi Jesse. Pertengkaran pun selesai. Semuanya kembali indah.
THE END.
******
Jadi, gimana kesimpulan Trilogi
Before?
Bagus.
Bagus banget.
Di segala aspek bagus.
Dan menurut gw Before Midnight
bener-bener jadi penutup yang pas buat Trilogi Before. Indah tapi gak
dipaksakan, happy ending tapi gak norak, dan mereka tetep pasangan Jesse dan
Celine yang punya segudang masalah hidup, tapi mereka deal with it. Mereka berdamai
dengan kondisi kehidupan mereka yang jauh dari sempurna tapi tetap bisa
tertawa.
Gw suka setiap detail-detail
kecil yang diselipkan sutradara atau tim penulis Trilogi Before. Seperti hobi
Celine pake tas selempang, itu terlihat saat Celine masih jadi mahasiswi di La
Sorbonne, sampai dia kerja sebagai aktivis lingkungan dan ending up jadi ibu
rumah tangga, Celine gak pernah lepas dari tas selempang. Udah kayak tas
favorit banget buat dia. Kayak, itu detail banget kan? Detail lainnya, terlihat
di scene hotel room, di mana Julie Delpy yang memerankan tokoh Celine sama
sekali gak keberatan buat mengekspose bagian atas tubuhnya (payudara maksudnya)
di depan kamera, karena anjirr itu bukan payudara khas model-model Victoria's Secret tapi bener-bener payudara emak-emak yang udah nyusuin, yang turun gombleh
begitu, tapi dia tetep pede dishoot kamera (maksudnya gini loh, biasanya kalo
ada bagian tubuh aktris/aktor yang aslinya kurang bagus gitu, biasanya dicover
pake body double/kayak stuntman khusus buat adegan-adegan frontal/nudity gitu
biar kesannya tetep punya badan yang perfect) tapi engga di Before Midnight. Sutradara
tetap mempertahankan bentuk asli payudara Celine yang… yaudahlah itu real
banget, emak-emak yang udah nyusuin pasti bentukannya kayak begitu.
Intinya trilogi ini bener-bener
berkembang. Gak hanya tokohnya tapi juga ceritanya. Pemakaian konsep long shot
dan dialog-dialog Panjang tetep dipertahankan tapi dengan substansi yang lebih
berkembang. Kalo Before Sunrise berisi obrolan anak muda penuh mimpi dan cinta
yang indah dan Before Sunset menunjukkan gimana mereka mulai mengalami
pendewasaan baik dalam pola berpikir maupun menyikapi sebuah cinta, maka Before
Midnight mengambil tema yang lebih kompleks sekaligus lebih kelam, soal intrik
rumah tangga, pengasuhan anak, pekerjaan dan segala hal yang emang real terjadi
di kehidupan berumah tangga. Semuanya dibalut tetap dengan gaya Trilogi Before
yang mengutamakan kekuatan dialog antar tokoh.
Selanjutnya?
Banyak penggemar setia Trilogi
Before mengharapkan ada kelanjutan cerita Jesse dan Celine, entah kisah mereka
setelah memasuki usia 50-an, dengan anak-anak yang semuanya sudah beranjak
remaja dan sebagainya, tentunya dengan masalah-masalah baru yang terus membuat
penonton tidak berkedip. Tapi, gw rasa, kalo emang gak ada lanjutan yang
sepadan, lebih baik Trilogi ini berakhir di Before Midnight, karena ending yang
begitu indah sudah tersaji. Tinggal sisanya dikembalikan ke interpretasi
masing-masing penonton tentang gimana kehidupan Jesse dan Celine selanjutnya. Apakah
mereka akan mengikuti jejak kakek Jesse yang menikah hingga 74 tahun lamanya? Atau
akan ada intrik-intrik yang terjadi lagi di sepanjang jalan pernikahan mereka. Semua
Kembali ke imajinasi kita.
Sekali lagi salut untuk Trilogi
Before yang so far jadi satu-satunya sekuel film yang berhasil menurut gw. Semuanya
dipikirin secara matang dan seimbang. Berharap suatu saat ada film lokal yang
bisa mengikuti jejak Trilogi Before. Menyajikan drama tanpa harus terlampau
mendramatisasi, membuat Rom-com tanpa pakai formula yang mainstream, dan
menciptakan fiksi yang mendekati kehidupan nyata.
Bintang 5 untuk Trilogi Before 😊

























