Rabu, 07 September 2011

“Petting Mau, Tapi Takut Hamil..!”

Penulis: T. Tjahyo Widyasmoro

Remaja dan perilaku seks bebas? Ah, kenapa lagi-lagi remaja yang disalahkan!
Padahal issue perilaku seks bebas dikalangan remaja sudah ada sejak bertahun-tahun lalu
– paling tidak begitu kata sejumlah survey. Menyimak potret muram perilaku sebagian kecil remaja, seperti kesaksian sejumlah konselor di lembaga swadaya masyarakat berikut.

Hati miris menonton tayangan berita “TKP”, disiarkan Trans 7 23 April 2009 silam. Salah satu beritanya tentang seorang gadis 18 tahun yg sedang hamil tua, terlantar dan akan segera melahirkan disebuah pos ronda di cirebon. Ia dihamili pacarnya yg kabur begitu mendengar kondisinya tengah berbadan dua.

56 % remaja kota Bandung pada rentang usia 15-24 tahun sudah melakukan hubungan seks – survey 25 messenger Jawa Barat terhadap remaja usia 15-24 tahun sebanyak 100 responden pada setiap kecamatan di kota 

Gadis itu lalu dibawa ke klinik bersalin, beruntung jabang bayi bias lahir dengan selamat dan normal. Tapi beberapa waktu kemudian, sang ibu ternyata malah kabur lewat jendela klinik dan meninggalkan putranya begitu saja.
Berita itu mungkin mengingatkan kita pada penggrebekan sebuah klinik aborsi di kawasan Jln. Percetakan, Jak-Pus, Februari 2009 lalu, kata polisi klinik tsb mengaborsi 1.000 janin per tahun. Sekali aborsi ongkosnya  Rp. 1 – 5 Juta, murah? Yeap, karena itulah pasiennya konon sebagian adalah remaja.

Kebanyakan Petting

Antara remaja dan pergaulan bebas, sering membuat orang tua merasa was-was. Memang ini bukan cerita baru, karena pergaulan bebas dikalangan generasi belia ini sudah jadi kekhwatiran sejak puluhan tahun lalu, mungkin bedanya orang tua zaman sekarang layak utk lebih khawatir lantaran anak-anak remajanya menerima banyak informasi tanpa bias di control. Lewat film, game, internet, termasuk media massa. Yg ditakuti apalagi kalau bukan pornografi. 
Bonita Merlina (25), seorang konselor dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta membenarkan ahwa banjirnya sumber-sumber pornografi bias memicu remaja untuk melakukan hubungan seks. Terutama film porno yg dapat membuat remaja yg menontonnya menjadi terangsang lalu penasaran ingin meniru aksi para actor dan aktrisnya.
Remaja menonton film-film ‘begituan’ bisa berbarengan atau hanya berdua saja sama teman atau pacar. “Kebanyakan terus dilanjutkan having sex sama pacar, mantan pacar, pokonya orang-orang dilingkungan itulah,” tutur Boni, panggilan akrab Bonitha berdasarkan pengakuan para remaja itu kepadanya.
Akrabnya sebagian kaum remaja kita dengan aktivitas seksual itu terkuak juga dari pertanyaan-pertanyaan mereka kpd PKBI lewat jalur hot-line atau layanan masalah remaja lewat telepon. Pertanyaan remaja umumnya seputar alat kontrasepsi dan kehamilan. Misalnya, “Apakah saya bisa hamil?” Mereka khawatir hamil karena misalnya habis berciuman dengan pacar, saling pegang alat kelamin atau dengan nama lain dikenal dengan sebutan Petting.
Karena aktivitas seksualnya remaja juga bisa takut terkena penyakit kelamin atau malah HIV. Walau ada juga sebagian yg lain malah menggampangkan, mereka yakin kalau petting tidak bakal bikin hamil. “Kan penis tidak masuk ke vagina!” begitu Boni menirukan argumentasi para remaja itu. Tentu saja, keyakinan tsb tidak sepenuhnya benar.
Banyak remaja ber-petting ini juga diakui Kodariah (35) konselor di Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) di Jakarta. Petting terjadi karena mereka kepingin having sex tapi takut hamil. Akhirnya beraninya cuma berhubungan diluar saja, seperti menyentuh alat kelamin pakai jari (Fingering –Red), meraba-raba, mencium, atau mengisap (Blow Job –Red). Istilah-istilah mereka seperti Kissing, French kiss, cupang, atau grepe (memegang alat kelamin.
Aktivitas seksual itu tidak melulu dilakukan sama pacar. Bisa sama teman atau “teman tapi mesra” alias TTM-nya. Sekedar memuaskan rasa penasaran atau having fun saja. “Mungkin tidak semua orang mengartikan kearah seksual, tapi dalam beberapa kasus yg masuk ke kami, mereka mengakui aktivitas seksual bersama TTM-nya itu,” kata Kodariah.
Ia malah pernah mendengar pengakuan, seorang siswi SMU di Jakarta mau melakukan itu dengan lima orang lelaki yg semuanya cuma berstatus teman. Alasannya, “Kalau sama Pacar tetap berusaha tampil bersih, kak!” Entah, apa maksudnya. Kelima cowok itu tidak diajak sekaligus, tapi bergantian. Semuanya cuma petting, tidak lebih dari itu.

Problem Seks Anak Ingusan

Dari temuan lembaga-lembaga konseling remaja, aktivitas seksual sudah terjadi pada usia sangat muda, yaitu SD. Temuan ini bisa jadi sangat kasuistis dan sifatnya masih coba-coba. Tapi kita patut prihatin, jika pernah didapati seorang anak kelas 5 SD kena penyakit menular seksual gara-gara berhubungan seks dengan PSK. Anak –anak itu mengaku mengenal pornografi dari film dan permainan game.
Pada usia masih ‘ingusan’ ini kasus terbanyak adalah masturbasi. Mitos di kalangan anak-anak, kalau sering masturbasi akibatnya dengkul akan kopong (kosong –Red).
         “Tapi bukannya malu kalau disebut begitu, malah jadi kebanggaan,” ungkap Ela Fatimah, relawan di PKBI DKI Jakarta. Sejauh Ela menelusuri, ternyata rangsangan itu bisa berasal dari orang dekat. Mereka sering melihat kakak perempuannya yg ganti baju atau rok yg tersingkap.
Seorang anak kelas 5 SD pernah mengaku ke YKBH, ia pernah bermasturbasi bersama teman-temannya. Istilah mereka: “Ayo, main panjang-panjangan!”, dengan media sabun mandi. Bersama teman-temannya ini mereka juga sering nonton film porno. “Nih, gue kasih Rp. 10.000 kita nonton bokep (Film Biru ; Porno –Red) di rumah,” kata salah seorang anak yg jadi bos-nya, seperti diungkap Kodariah.
Ela pernah dihubungi seorang siswa SMP untuk menanyakan cara menghentikan masturbasi karena dia merasa sudah over. Bisa tiga kali sehari. Menurut pengakuan anak itu, awalnya ia sengaja melakukannya, tapi akhirnya ketagihan dan sulit utk mengontrol. Tanpa rangsangan pun ia tetap berkeinginan untuk bermasturbasi.

Tanda Bukti Cinta

Pada sebagian remaja, ada juga yg sudah mencoba-coba melangkah lebih jauh, yaitu melakukan Penetrasi penis ke vagina. Dari keluan yg masuk ke YKBH, mereka yg melakukannya umumnya pelajar SMU. “Ada pengakuan kalau hal-hal semacam ini sudah menjadi hal biasa bagi mereka, bahkan ada yg melakukannya sampai seminggu tiga kali” Kata Kodariah miris.
Hubungan bisa dilakukan pribadi, yg artinya berdua saja. Tapi ada pula yg melakukannya bersama teman-teman lain. Hubungan beramai-ramai ini biasanya terjadi di rumah salah seorang diatara mereka yg kebetulan sedang sepi. Mereka ngumpul, alasannya belajar bersama atau mengerjakan tugas. Padahal acara bisa melenceng jadi nonton film porno atau doing another negative thing. Hmm..
Karena bersama-sama, kadang mereka idak bisa menghindar utk menyaksikan sesamanya berhubungan seks. Tidak ada rasa sungkan dalam kelompok itu. Kodariah malah pernah mendengar seseorang diantara mereka bisa-bisanya berkomentar “Wah, kalau cewek gue payah. Gue udah hot, dia belum panas.” Menurut Kodariah ini pertanda kalau mereka sudah tidak malu-malu lagi. Wah.. wah.. wah..


93,7 % responden pernah berciuman, petting, oral sex dan 62,7 % responden SMP lose Virginitysurvey Komnas perlindungan Anak dengan 4.500 sampel di 12 kota besar tahun 2007-2008
Alasan berhubungan seks pada sepasang remaja yg berpacaran biasanya sebagai tanda bukti cinta diantara mereka. “Katanya untuk buktiin, kalau aku beneran sayang sama dia,” Kata Kodariah mengutip pengakuan klise seorang gadis. Karena itu dalam berbagai seminar, dr. Boyke Dian Nugraha, dokter dan seksolog secara berseloroh sering menyarankan agar para remaja putri cukup memberi tanda bukti cinta berupa kwitansi saja, tidak usah pakai hubungan seks segala!.
Hubungan seks memang dilakukan secara pribadi, tetapi pengaruh kelompok pertemanan (Peer Group) bisa dominan. Ada yg melakukannya karena terpengaruh lingkungan atau agar dapat diterima dalam kelompok tersebut, bahkan menjadi ajang unjuk gigi. Yeap, unjuk gigi disini bukanlah membicarakan soal prestasi melainkan pe-label-an atau pemberian cap ‘gaul’ atau tidaknya mereka.
Memang didorong rasa gengsi, tetapi habis melakukannya tetap saja mereka takut hamil. Dengan pemahaman yg minim tentang alat kontraepsi, beberapa remaja mengaku meminum pil KB untuk pencegahan, pil tsb didapat dengan cara membeli, tapi tidak jelas dimana mereka membeli dan soal keasliannya.
Ada juga yg melakukan cara-cara konyol biar tidak hamil. For examples, Minum minuman soda berkarbonasi, membalurkan cream tertentu di alat kelamin, makan nanas atau buah-buahan lain yg rasanya asam, minum pil peluruh, membuang sperma tdk didalam vagina saat pria ejakulasi, loncat-loncat dan mandi bersih dengan menggosok atau menyemprotkan alat kelamin dengan air. Harapannya sperma yg sudah terlanjur masuk bisa bersih atau mati.

Orang Tua Cuek

Para remaja rupanya tidak pernah kesulitan mendapat tempat untuk melakukan aktivitas seksual. Simak pengakuan salah seorang remaja kpd YKBH: “Kalau cuma ciuman, french kiss, itu sih di sekolah juga masih berani. Tapi kalau petting atau having sex, sebagian besar dilakukan dirumah.”
Rumah yg kosong karena orang tua pergi is definitely heaven for them! Apalagi kalau ortu sudah acuh tak acuh terhadap apa yg diperbuat anak-anaknya. Kodariah pernah mendengar pegakuan dari seorang siswa kelas 2 SMP yg pernah melakukan hubungan seksual dirumah, di ruang televisi! Rupa-rupanya rumahnya sudah sedemikian sepi hingga hal tsb sampai dapat dilakukan di ruang yg notabennya adalah ruang keluarga (Ruang terbuka, yg bukan kamar -Red).
Boni membenarkan dari kasus-kasus yg ditanganinya, hubungan seksual umumnya erjadi dirumah, rata-rata karena orang tua bekerja. Selain itu ada juga yg orang tuanya tidak care. Ada teman yg main kerumah terus masuk ke kamar, tapi si orang tua cuek saja.
Sarjana psikologi lulusan UPI YAI ini juga prihatin karena ada anak yg justru mengenal seks dari kecerobohan orang tuanya sendiri. Seperti, jika orang tua lalai menutup atau mengunci pintu kamar saat berhubungan badan. Bisa juga karena sekat antara dinding kamar yg tidak memadai, sehingga si anak dapat mendengar “uh-oh”-nya orang tua saat beraktivitas seksual. Hal-hal semacam ini tentu dapat berpengaruh pada anak.Ada sebuah kasus, ungkap Kodariah, seorang siswi SMP ternama di Jakarta selatan sempat di-skorsing gara-gara ketahuan berciuman pada acara pentas seni di sekolahnya. Dari sana muncul pengakuan dari teman-temannya dia sering melakukan itu. Mengajutkan lagi, untuk memuaskan hasrat seksualnya, siswi itu ternyata sering menawar-nawarkan payudaranya kepada teman-teman lelakinya. Kalau mau melihat tarifnya Rp. 5.000, pegang-pegang doang Rp. 10.000.
Bukan lantaran tidak mampu siswi itu berbuat demikian. Ia pulang-pergi kesekolah pakai mobi mewah. Setelah ditelusuri lebih jauh, ia melakukannya karena telah kehilangan figur seorang ayah. Orang tuanya bercerai dan ayah kini tidak diketahui lagi keberadannya. Kalau sudah begini, siapa mau disalahkan?.


Artikel ini saya kutip dari:
Intisari (Kompas Gramedia) Edisi Juni 2009
“Seks di Usia 15” dengan sedikit edit dan penambahan
Semoga share ini berguna untuk menambah wawasan dan membuka jendela pikiran pembaca
tentang issue dan fenomena memprihatinkan yg terjadi di negara kita ini.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar